KOPI TANPA SESENDOK GULA

Renungan dari Denny Siregar
KOPI TANPA SESENDOK GULA..
“Saya sudah gak tahan hidup bersamanya !”
Dengan berapi2 temanku menceritakan tentang situasi rumah tangganya. Ia yang seorang wanita karir merasa sudah sekian lama menjadi tulang punggung keluarga, karena suaminya tidak mampu memberikan banyak hal dalam kehidupan mereka.
Memang secara posisi temanku ini berada diatas suaminya. Jabatan yang tinggi di sebuah perusahaan, gaji yang besar belum lagi ditambah bonus ke luar negeri yang didapatkan setiap akhir tahun. Sedangkan suaminya adalah seorang wiraswasta kecil yang mempunyai mimpi besar, hanya sayangnya situasi tidak berpihak kepadanya sehingga tersendat-sendatlah hasil yang didapat. Kadang, bahkan tidak cukup untuk makan keluarga mereka sebulan.
Kisah klasik, pikirku. Awal dari perpecahan rumah tangga banyak bermula dari situasi ekonomi.
Kuhirup kopiku yang sudah mulai dingin dan kulirik temanku yang sedang berusaha menenangkan dirinya. Masalah yang selalu dipendamnya dan tidak mungkin ia ceritakan ke sembarang orang. Tahulah kenapa, rasa malu karena mempunyai suami yang tidak seperti “suami orang-orang”.
” Ujian terberat seorang wanita sebenarnya bukan ketika ia tidak mempunyai apa2, tetapi justru ketika ia memiliki segalanya..” Aku bergumam dan tidak penting apakah ia mendengarkan atau tidak. “Wanita di uji ketika ia berada di atas dan lelaki di uji ketika ia sedang si bawah..”
” Manusia itu mempunya kodratnya masing2.. dan salah satu ujian terberat yang sangat halus adalah ketika kita melupakan kodrat kita, hakikat diri kita, siapa sebenarnya kita, untuk apa kita disini… ” Kunyalakan sebatang r*&$% dan kembali kulirik temanku. Dalam marahnya dia tampak mendengarkanku.
” Kesombongan kita-lah yang membuat kita melupakan diri, membentuk kita dengan sifat2 hewan, mengangkat kita tinggi2 dan mengukur sesuatu lebih rendah daripada kita. Padahal seharusnya kita tahu bahwa yang kita dapat sesungguhnya bukanlah karena apa yang kita lakukan, tetapi karena itu pemberian Tuhan. Semua kemampuan, kesehatan, semua jalan yang terbentuk, ketika itu di hilangkan, maka hilang-lah semua… sampai kita baru paham, siapalah kita ini sebenarnya…”
” Ada yang kamu lupakan….” Aku menarik kursiku mendekat kepada temanku. ” “Apakah kamu tidak pernah berfikir sedikitpun, bahwa sebenarnya semua yang kamu dapat ini adalah juga bagian dari rejeki suamimu yang dititipkan Tuhan kepadamu ? Bagaimana seandainya dia bukan suamimu ? Mungkin kamu tidak akan bisa berada pada posisi sekarang ini…”
Temanku tersentak, merenung. Pemikiran yang belum pernah ia dapatkan selama ini karena tertutup kesombongan dirinya yang sedang meninggi.
Kubiarkan dia, kuhirup secangkir kopi yang menyadarkanku bahwa tanpa sesendok gula, sang kopi belum tentu bisa seterkenal ini….

Leave a Reply